Kontroversi mengenai keabsahan silsilah nasab Ba’alwi yang dipertanyakan oleh Kiai Imaduddin Usman al-Bantani terus bergulir dan menjadi perhatian di kalangan akademisi serta ulama lintas negara. Terbaru, cendekiawan dan dai asal Malaysia, Ustadz Noor Deros, memberikan pandangan kritis dan mendalam terkait konsistensi metodologi ilmiah yang digunakan dalam perdebatan tersebut.
Dalam keterangannya, Ustadz Noor Deros menyoroti bahwa argumen pokok yang dibangun oleh Kiai Imaduddin mengenai terputusnya silsilah Ba’alwi kepada Nabi Muhammad SAW sejauh ini masih berdiri kokoh secara ilmiah.
Menurutnya, klaim sekelompok pihak yang menyatakan isu ini sudah “selesai” atau “terjawab” adalah bentuk penyederhanaan masalah yang tidak tepat.
“Sering ada anggapan bahwa isu ini sudah dijawab. Namun jika ditelaah kembali, dari sekian banyak poin hujah yang diangkat, sanggahan yang ada hanya menyentuh sebagian kecil saja dan tidak menggoyangkan kerangka utama tesis ilmiah tersebut,” ujar Ustadz Noor Deros.
Kerangka Metodologi
Bukti Kumulatif (Cumulative Evidence)
Ustadz Noor Deros menjelaskan bahwa kritik nasab yang diajukan oleh Kiai Imaduddin tidak bisa dikategorikan sekadar sebagai argumen kemangkiran (argumentum ad silencio) yang simplistis. Pihak yang memprotes sering kali beralasan bahwa “ketidakberadaan catatan tidak berarti ketidakberadaan sosok”. Namun, ia menggarisbawahi kekuatan penelitian Kiai Imaduddin terletak pada kekokohan bukti kumulatif (tarakum).
Beberapa poin ilmiah yang disatukan dari telaah riset tersebut meliputi:
Ketiadaan Catatan Lintas Abad
Nama Ubaid/Ubaidullah/Abdullah—yang diklaim sebagai leluhur Ba’alwi—tidak pernah tercantum dalam kitab-kitab nasab primer (kutuub al-ansab) secara konsisten selama abad ke-5 hingga abad ke-9 Hijriah.
Karakteristik Kitab Nasab Khusus
Para ahli nasab abad klasik mencatat dengan detail keturunan Ahmad bin Isa al-Muhajir dan menyebutkan anak-anaknya yang lain. Namun, sosok Ubaidullah secara eksplisit tidak pernah dinamai dalam rentang waktu sekitar 500 tahun tersebut di dalam genre literatur nasab.
Kekuatan Data Historis
Absennya nama tersebut dalam literatur spesifik secara beruntun selama lima abad menjadi indikator sejarah yang teramat kuat dan sulit diabaikan secara metodologis.
Menyerukan Etika Ilmiah dan Menolak Sikap Apatis
Selain membedah isi argumen, Ustadz Noor Deros juga memberikan kritik keras terhadap etika berdiskusi di dalam iklim keilmuan. Ia menyesalkan adanya imbauan dari pihak-pihak tertentu yang mengajak masyarakat untuk “tidak melayani” atau mengabaikan karya ilmiah yang telah disusun secara bersungguh-sungguh.
Ia menilai bahwa kesungguhan Kiai Imaduddin yang telah menulis berbagai kitab balasan dalam bahasa Arab maupun Melayu harus dihormati dengan tanggapan ilmiah yang sepadan. Mengabaikan riset ilmiah tanpa membaca atau membedahnya secara kritis dianggap sebagai tindakan yang tidak proporsional dalam tradisi keilmuan Islam.
Wacana penataan kembali keabsahan silsilah dan historiografi nasab ini diperkirakan akan terus berlanjut, seiring makin banyaknya akademisi dan peneliti sejarah yang mulai menguji keabsahan dokumen-dokumen klasik secara rasional dan objektif.