• Terkini
  • Trending
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

19 Agustus 2026
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

17 Oktober 2026
Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

14 Oktober 2026
Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

8 Oktober 2026
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Pesantren Afiliasi NU di Bogor Disegel, KH Imaduddin: Gaya PKI Semacam Itu Harus ditindak Aparat

3 Oktober 2026
Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

28 September 2026
Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

23 September 2026
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Kiai Hasan Sahal Gontor, Kiai Keturunan Sunan Gunung Jati Yang Sedang Viral: Kiai Palsu, Santri Palsu, Pesantren Palsu

21 September 2026
  • Tentang
  • Iklan
  • Privacy & Policy
  • Kontak
  • Login
  • Beranda
  • Berita
    • Semua
    • Ekonomi
    • Internasional
    • Politik
    • Sains
    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Pesantren Afiliasi NU di Bogor Disegel, KH Imaduddin: Gaya PKI Semacam Itu Harus ditindak Aparat

    Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

    Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

    Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

    Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

    Trending Tags

    • Trump Inauguration
    • United Stated
    • White House
    • Market Stories
    • Election Results
  • Islam
    • Semua
    • Fiqih
    • Tasawuf
    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    Pesantren Nahdlatul Ulum Banten menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba’alwi

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    KH. Ja’far Shadiq Fauzi Madura: Klan Ba’Alwi Memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’Alwi

    KH. Ja’far Shadiq Fauzi Madura: Klan Ba’Alwi Memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’Alwi

  • Kebangsaan
    • Pancasila
    • Bhinneka Tunggal Ika
  • Peradaban
    • Semua
    • Budaya
    • Sejarah
    Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

    Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

    Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Dengan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam

    Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Dengan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

    Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

    Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

    Baalwisasi Sejarah Amaliah Tahlilan Berhasil Diluruskan

    Baalwisasi Sejarah Amaliah Tahlilan Berhasil Diluruskan

    Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

    Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Game of Thrones
    • MotoGP 2017
    • eSports
    • Fashion Week
    • Arsitektur
    • Budaya
    • Kearifan
    • Sejarah
  • Opini
    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

    BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

    BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    RUMAIL KEMBALI BERDUSTA: TIDAK TAKUT BEDOSA BERBOHONG ATAS NAMA KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW YANG ASLI

    Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

    Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

    Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

    Antara Taipan Yahudi George Soros dan Si Suneo Rumail Abbas Ada Ketua PBNU

    Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

    Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

  • Tekno
    Mengenal dan Memahami Teknologi AI

    Mengenal dan Memahami Teknologi AI

    Teknologi Terbaru yang Sedang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

    Teknologi Terbaru yang Sedang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

    Trending Tags

    • Nintendo Switch
    • CES 2017
    • Playstation 4 Pro
    • Mark Zuckerberg
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile
    • Startup
  • Internasional
  • Daerah
  • Hukum
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Berita
    • Semua
    • Ekonomi
    • Internasional
    • Politik
    • Sains
    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Pesantren Afiliasi NU di Bogor Disegel, KH Imaduddin: Gaya PKI Semacam Itu Harus ditindak Aparat

    Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

    Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

    Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

    Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

    Trending Tags

    • Trump Inauguration
    • United Stated
    • White House
    • Market Stories
    • Election Results
  • Islam
    • Semua
    • Fiqih
    • Tasawuf
    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    Pesantren Nahdlatul Ulum Banten menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba’alwi

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    KH. Ja’far Shadiq Fauzi Madura: Klan Ba’Alwi Memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’Alwi

    KH. Ja’far Shadiq Fauzi Madura: Klan Ba’Alwi Memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’Alwi

  • Kebangsaan
    • Pancasila
    • Bhinneka Tunggal Ika
  • Peradaban
    • Semua
    • Budaya
    • Sejarah
    Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

    Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

    Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Dengan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam

    Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Dengan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

    Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

    Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

    Baalwisasi Sejarah Amaliah Tahlilan Berhasil Diluruskan

    Baalwisasi Sejarah Amaliah Tahlilan Berhasil Diluruskan

    Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

    Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Game of Thrones
    • MotoGP 2017
    • eSports
    • Fashion Week
    • Arsitektur
    • Budaya
    • Kearifan
    • Sejarah
  • Opini
    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

    BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

    BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    RUMAIL KEMBALI BERDUSTA: TIDAK TAKUT BEDOSA BERBOHONG ATAS NAMA KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW YANG ASLI

    Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

    Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

    Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

    Antara Taipan Yahudi George Soros dan Si Suneo Rumail Abbas Ada Ketua PBNU

    Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

    Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

  • Tekno
    Mengenal dan Memahami Teknologi AI

    Mengenal dan Memahami Teknologi AI

    Teknologi Terbaru yang Sedang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

    Teknologi Terbaru yang Sedang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

    Trending Tags

    • Nintendo Switch
    • CES 2017
    • Playstation 4 Pro
    • Mark Zuckerberg
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile
    • Startup
  • Internasional
  • Daerah
  • Hukum
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Berita
  • Islam
  • Kebangsaan
  • Peradaban
  • Opini
  • Tekno
  • Internasional
  • Daerah
  • Hukum
Beranda Opini

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

Admin Oleh Admin
19 Agustus 2026
Dalam Opini
0
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?
0
BAGIKAN
6
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter##

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Tahun 2021, saya ingat betul karena saat itu masa Covid-19 dan saya sedang nyervis motor, saya mendapat pertanyaan Gus itu apa? Kyai itu apa? Ulama itu apa? Hadirnya pertanyaan itu mungkin karena memang label-label sosial-keagamaan itu ruwet pemahamannya di tengah masyarakat urban dan generasi yang lebih muda. Serba rancu, ndak karu-karuan. Sembari menunggu motor CBR saya selesai diservis, saya menjawabnya semampu saya sesuai standar pendefinisian pribadi saya.

Gus itu panggilan dari masyarakat Jawa untuk menghormati anak laki-laki Kyai. Kalau di Madura disebut Lora (Ra). Nah, masalahnya sekarang, apa itu Kyai? Itu dulu yang mesti kita dudukkan perkaranya baru kita bisa bicara apa itu Gus karena definisi Gus bergantung pada definisi Kyai. Kalau per definisinya yang dipahami masyarakat umum untuk menyebut seseorang sebagai Gus kita harus verifikasi dulu apakah orang tuanya betul Kyai barulah kita bisa menyebut putranya sebagai Gus. Jadi keliru kalau kita bilang seseorang itu Gus padahal orang tuanya bukan Kyai tetapi tidak keliru kita menyebut seseorang sebagai Kyai meski orang tuanya bukan Kyai karena siapa saja bisa menjadi Kyai sepanjang kualitasnya (dianggap) memenuhi. Tidak menjadi keliru kalau kita (masyarakat) bersepakat mengubah definisi Gus.

Ada lagi sebutan Aang di Jawa Barat, menurut Kyai Imad, adalah orang (alim tapi) yang belum pantas disebut Kyai. Saya bertanya kenapa bisa Aang, saya bertanya begitu bukan dalam makna menegasikan melainkan mengafirmasi bahwa panggil saja dia Kyai. Kyai Imad menjawab karena rambutnya masih gondrong. Saya balas, Rasulullah Saw itu gondrong lho, Yai, jadi yang sunnah itu gondrong bukan cepak (rambut pendek). Kami berdua tertawa.

Ya begitu, ada khazanah gradasi-gradasi kualitas yang berkonsekuensi pada penganggapan layak tidaknya seseorang disebut dengan panggilan-panggilan budaya tertentu. Sayangnya, gradasi kualitas itu tak terdefinisikan secara rigid operasional sehingga tidak jelas pemenuhan kualifikasinya. Ini yang bikin kacau.

Kembali ke apa itu Kyai.

Kyai adalah orang yang berposisi fungsi mengayomi dan ngemong (mengasuh)masyarakat dalam urusan ketuhanan. Di sebagian masyarakat pedesaan  pedalaman yang masih sangat tradisional, (dulu) kalau usianya agak sepuh atau hawa kepribadiannya memancarkan nuansa sepuh kharismatik tertentu sebagai pengemong (social-spiritual leader) biasanya dipanggil Mbah atau Mbah Yai—bukan Kyai. Maka Kyai itu bukan sertifikasi keilmuan agama tetapi orang yang ngemong (mengasuh) masyarakat yang masyarakat menganggapnya sebagai orang tuanya (pengasuh). Jadi siapa yang pantas disebut Kyai? Ya orang yang ngemong masyarakat lalu secara natural masyarakat memanggilnya dengan sebutan Kyai. Awalnya natural begitu.

Maka, aslinya tidak semua Kyai fasih dalam artikulasi keilmuan agama yang canggih-canggih dan memang tidak harus fasih—cukup yang standar saja sebagaimana kebutuhan masyarakat pada umumnya. Yang harus ada pada seorang Kyai adalah kepribadiannya bisa ngemong masyarakat (pangemongan, kepengasuhan). Dengan demikian, tidak semua Kyai adalah ulama. Gradasi kualitas ulama beda lagi. Kyai itu aksentuasinya pada posisi fungsi, ulama itu aksentuasinya pada posisi kualitas ilmu yang tinggi (jauh) dan kualitas kepribadian di atas rata-rata pencapaian manusia pada umumnya. Idealnya, ulama bisa berperan sebagai kyai karena aneh betul jika orang berilmu tidak memiliki kualitas kepribadian pengemong masyarakat. Orang yang begitu bukan orang berilmu melainkan orang yang berhafalan, seperti burung beo.

Ada juga pandangan ulama itu adalah semua orang yang berilmu. Umpamanya saintis, sosiolog, psikologis. Ya bisa juga begitu sepanjang ia bisa mengkoneksikannya dengan dimensi Ketuhanan (Ilahiah, tauhid, spiritualitas) dan kosmologi. Tapi pendefinisian dan kategorisasi ulama itu juga ribet lagi kalau kita usut betul ontologisnya. Jadi mudahnya begitu saja sudah.

Ada juga label sosial berupa Ustaz. Ustaz itu mengajar urusan-urusan teknis dasar dan tidak punya bau-bau keramat transenden. Kalau Kyai ranah urusannya filosofis, spiritualitas dan kehidupan. Ustadz dipersepsikan pada posisi di bawah Kyai. Syaikh di atas Kyai. Kalau sudah disebut Syaikh konotasinya dia itu di atas Kyai. Kalau definisi dan struktur itu dianggap aneh, ya boleh saja. Saya pun juga berpendapat demikian bahkan lebih parah ‘kejam’ lagi tingkat investigasinya. Tapi fakta yang ada di masyarakat waktu itu begitu itu. Entah sekarang bagaimana setelah adanya tesis Kyai Imad yang merevolusi paradigma dan tatanan sosial keagamaan.

Zaman sekarang banyak yang tidak natural dan tidak asli. Fabricated and self-proclaimed ala-ala marketing Amerika yang teknik itu membanjiri masyarakat setidaknya sejak sekitar tahun 2010 yang saya identifikasi dibawa oleh kaum-kaum motivator seperti Tung Desem Waringin, Ippo Santosa, Merry Riana, Bong Candra, Jamil Azzaini, dll. Mereka lucu-lucu tapi ya laku, duitnya banyak. Teknik ini juga digunakan oleh Rumail Abbas Al Ahdal, salah satu budak habib, yang self-proclaimed sebagai historian padahal bukan (fake historian).

Fenomena itu terjadi pula di ranah keagamaan. Hampir semua unsur keagamaan dikomodifikasi oleh kaum yang otaknya serba industrialis, hampir tak tersisa unsur-unsur yang kita jaga marwah ruhaninya. Berpikir industrialis itu tidak buruk, itu bagus pada hal-hal yang tepat, merusak pada hal-hal yang seharusnya tidak jadi industri. Ada hal-hal yang memang semestinya mengikuti gerak market dan dikapitalisasi tetapi mari kita jangan lupakan ada hal-hal yang semestinya marketlah yang (dipaksa) mengikuti hal tersebut sehingga masyarakat tidak kehilangan kebijaksanaan budaya dan ruhaniahnya. Karena pikiran-pikiran industrialis begitu Kyai  dan sebutan lain disulap menjadi merek (branding) yang disengaja (deliberate) bukan hadir secara natural karena kontribusi dan fungsinya di tengah masyarakat lalu masyarakat dengan natural memanggilnya Kyai. Beberapa puluh tahun belakangan tidak begitu. Ndadak, kabeh wong dadi Gus, kabeh wong dadi Kyai, kabeh wong keceluk ustaz, kabeh wong berdaster diceluk ulama, mergo mung isok public speaking ngutip dalil bahasa Arab hafalan. Tak hanya sebutan sosial keagamaan yang dimodifikasi, sampai sedekah pun digerakkan oleh paradigma industri oleh Yusuf Mansur. Terma syariah pun diculik ke ranah perbankan menjadi istilah bank syariah lalu terciptalah bank syariah versus bank konvensional. Terma halal juga dikomodifikasi, salah satu contohnya ada kemudian jilbab halal dan AC halal. Dari sisi komedian itu lucu, dari sisi ketertiban umum hal-hal demikian itu merusak.

Saya tidak ada masalah dengan siapa yang dipanggil Kyai, Gus, Ustaz, Syaikh, Ulama dan sebutan-sebutan lainnya. Saya terganggu dalam aspek ontologi dan provenansnya.Saya gelisah kok orang seperti itu jadi acuan masyarakat, dianggap benar berotoritas ilahiah hanya karena sebutan dan busana. Hakikatnya motivator, pelawak, public speaker, penipu, tukang santet tapi disebut ulama hanya karena pandai bicara dan berbusana. Saya tidak mengatakan profesi-profesi itu tidak bisa jadi ulama, penjahat pun bisa jadi ulama, maksud saya secara kualitatif hakikatnya. Kalau orang hakikatnya motivator, pelawak, cuma public speaker, jangan berlagak jadi ulama. Kan makruh orang bodoh berbusana yang mengesankan dirinya ulama. Menurut saya, jangan makruh, sekalian diharamkan saja. Gus Yahya juga menyindir substansi nilai dan kualitas itu dengan menceritakan kisah di awal 1900-an beberapa kyai ber-bahtsul masail di Mekkah, yang didiskusikan apakah boleh menggelari seorang kyai padahal berdasar standar kualitas dia bukan (atau belum pantas) disebut Kyai. Kata Gus Yahya, hukumnya haram.

Kekacauan ini kalau mau diterus-teruskan tidak apa-apa. Hanya saja saya tidak ikut, saya menepi. Hati saya ndak tega mensejajarkan Abuya Muhtadi dengan Taufik Assegaf, Rizieq Shihab, Bahar Smith, dan seluruh habib lainnya yang kasta kualitas dan nasabnya paling hina di bumi Nusantara serta orang-orang karbitan dan orang-orang yang menurut saya pribadi tidak memenuhi standar kualifikasi. Hati saya sungguh ndak tega, tersinggung, saya menyebut Mbah Ahmad Dahlan dan Mbah Hasyim Asyari dengan panggilan Kyai lalu saya juga memanggil Ketua PCNU Pasuruan, Imron Mutamakin, juga dengan sebutan Kyai. Hati saya tidak rela Mbah Nun saya tulis dengan gelar Kyai Haji lalu gelar itu dihapus dari tulisan saya tapi orang yang kualitasnya jelas-jelas buruk masih saja ditulis Kyai oleh orang NU. Sekedar untuk diketahui, salah satu yang mengitsbat Mbah Nun sebagai kyai dan mursyid adalah Gus Mus.

Keadaan ‘apa-apaan ini’ tentang keulamaan saya kira merupakan tanggung jawab utama NU dan MUI yang pada namanya dengan jelas mengklaim dirinya sebagai ulama. Pihak yang mengklaim dialah yang mesti menyajikan buktinya dan menjadi pihak pertama dan paling utama yang menerapkannya. Maka NU dan MUI berkewajiban menyajikan bukti dan standar—meski MUI adalah makhluk tidak jelas menurut Gus Mus—ulama itu apa? Apa bare minimum kualitasnya? Kamu itu diitsbat jadi ulama atau kyai oleh siapa? Dan kualitas yang mengitsbat itu bagaimana? Itu kan mesti didudukkan perkaranya dengan jelas. NU sedang berupaya melalui Piagam Nilai-Nilai Keulamaan sebagai pedoman etik dan standar baku untuk memperjelas kriteria, integritas, serta peran ulama. Dokumen itu difungsikan sebagai rujukan umat dalam mengenali sosok ulama yang otentik di tengah disorientasi atribusi keagamaan saat ini.[2] Tinggal MUI yang belum (atau saya tidak tahu kalau itu ada?). Lalu, tinggal kita (masyarakat) yang konsisten menerapkannya.


[1] Gus Yahya: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah https://youtu.be/BGHxpRkJUh8?si=pRunlpKZCegnEf93

[2] Susun Piagam Nilai-Nilai Keulamaan, Ini Alasan PBNU https://banten.nu.or.id/nasional/susun-piagam-nilai-nilai-keulamaan-ini-alasan-pbnu-wj0RG

Sebelumnya

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Berikutnya

Peluk Sayang Untuk Gus Yahya dan Nahdliyin Kultural: Muktamar 35 Jombang

Berikutnya
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Peluk Sayang Untuk Gus Yahya dan Nahdliyin Kultural: Muktamar 35 Jombang

  • Tentang
  • Iklan
  • Privacy & Policy
  • Kontak
Advertisement: 0811-2011-002

Copyright© 2025 .

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Berita
  • Islam
  • Kebangsaan
    • Pancasila
    • Bhinneka Tunggal Ika
  • Peradaban
    • Arsitektur
    • Budaya
    • Kearifan
    • Sejarah
  • Opini
  • Tekno
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile
    • Startup
  • Internasional
  • Daerah
  • Hukum

Copyright© 2025 .