Oleh: Hamdan Suhaemi
Belakangan setelah memperhatikan komentar banyak orang, baik dilakukan setelah wawancara atau obrolan biasa hingga melihat komentar-komentar status di media sosial, baik Facebook, Tiktok, Instagram dan media sosial lainnya itu semua tanggapannya menolak, menghujat dan membenci klan Ba’alwi terutama mereka yahg tinggal di pulau Jawa.
Jika dianalisa tentu akarnya adalah tesis ibthal atas nasab Ba’alwi sejak tahun 2022 lalu, akar kedua adalah ucapan dan perilaku beberapa habaib itu sendiri sebagai representasi klan Ba’alwi di Indonesia yang dinilai ucapannya tersebut berisi khurafat, tahayul, irrasional, bahkan sering ceramahnya berisi kebencian, provokasi dan agitasi melawan pemerintah Republik Indonesia, dimulai sejak 2014 silam.
Hampir 4 tahun issue nasab ini terus bergulir, ada naik turun konstelasi dialektika antara Habaib melalui RA ( Rabithah Alawiyah) yang didukung secara militan oleh para muhubbinnya dengan PWI LS yang mendukung tesis KH. Imaduddin Usman. Dialektika yang terkadang seram, sangar dan liar ditonton oleh banyak pengguna Medsos yang kebanyakan kaum muda milenial.
Babak baru kita temukan ada kesadaran yang semakin merata yang tumbuh di alam pikiran bangsa atas keberadaan klan Ba’alwi, yakni kesadaran bahwa mereka bukan dzuriyat Rosulullah S.a.w, mereka mencerabut makna kuwalat dan syafaat yang sejak dulu ditanamkan secara doktrin oleh para pendahulu Habaib. Hak istimewa yang dulu melekat di pribadi habib kini dicopot paksa oleh karena kesadaran tersebut.
Khurafat dan kultus individu melawan arus besar digitalisasi dan rasionalitas post modernisme yang menitikberatkan pada basis data dan ilmiah. Keduanya bertarung di ” udara ” Medsos begitu bebas. Nampak bahwa yang rasionalitas mulai menolak eksistensi Habaib oleh karena khurafat dan kultus yang jadi bahan ceramah Habaib an sich. Penolakan itu kini telah merata di alam pikiran bangsa ini.
Adalah Daniel Katz dan Robert L. Kahn, dalam teori kesadaran sosial menjelaskan bagaimana orang mengembangkan kesadaran terhadap lingkungan sosial mereka dan kesadaran terhadap diri mereka sendiri. Teori ini mengatakan bahwa kesadaran terdiri dari dua komponen utama, yaitu kesadaran diri (self-awareness) kemampuan seseorang untuk memahami pikiran, perasaan, dan tindakan mereka sendiri serta bagaimana hal itu mempengaruhi orang lain. Kesadaran diri melibatkan pemahaman tentang sikap,
prinsip, dan keyakinan pribadi mereka yang dapat mempengaruhi interaksi sosial
mereka dengan sesama atau anggota komunitas mereka.
Berikutnya adalah Kesadaran Sosial (Social Awareness) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami dan merespons kebutuhan, pandangan, dan emosi orang lain dalam konteks sosial disebut kesadaran sosial. Ini termasuk kemampuan orang untuk memperhatikan, mendengarkan, dan menghargai perbedaan individu, serta memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang masalah sosial yang mempengaruhi
masyarakat (Bangun D, 2022).
Dari analisa teori sosialnya Daniel Katz itu itulah kita mendapati bahwa pandangan yang berbasis epistemologis akan menjadi pijakan manusia milenial hingga nanti, dan tentunya akan menggerus pandangan yang berbasis doxa, seperti husnu dzon, asumsi atau doktrin.
Ke depan bisa dimungkinkan kesadaran kolektif yang dikuatkan oleh basis epistemologis dan rasionalitas akan menguburkan secara masif atas eksistensi yang dibangun oleh kepalsuan. Lihat saja.
Serang, 2 Agustus 2026