• Terkini
  • Trending
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

12 Agustus 2026
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

17 Oktober 2026
Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

14 Oktober 2026
Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

8 Oktober 2026
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Pesantren Afiliasi NU di Bogor Disegel, KH Imaduddin: Gaya PKI Semacam Itu Harus ditindak Aparat

3 Oktober 2026
Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

28 September 2026
Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

23 September 2026
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Kiai Hasan Sahal Gontor, Kiai Keturunan Sunan Gunung Jati Yang Sedang Viral: Kiai Palsu, Santri Palsu, Pesantren Palsu

21 September 2026
  • Tentang
  • Iklan
  • Privacy & Policy
  • Kontak
  • Login
  • Beranda
  • Berita
    • Semua
    • Ekonomi
    • Internasional
    • Politik
    • Sains
    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Pesantren Afiliasi NU di Bogor Disegel, KH Imaduddin: Gaya PKI Semacam Itu Harus ditindak Aparat

    Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

    Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

    Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

    Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

    Trending Tags

    • Trump Inauguration
    • United Stated
    • White House
    • Market Stories
    • Election Results
  • Islam
    • Semua
    • Fiqih
    • Tasawuf
    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    Pesantren Nahdlatul Ulum Banten menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba’alwi

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    KH. Ja’far Shadiq Fauzi Madura: Klan Ba’Alwi Memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’Alwi

    KH. Ja’far Shadiq Fauzi Madura: Klan Ba’Alwi Memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’Alwi

  • Kebangsaan
    • Pancasila
    • Bhinneka Tunggal Ika
  • Peradaban
    • Semua
    • Budaya
    • Sejarah
    Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

    Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

    Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Dengan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam

    Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Dengan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

    Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

    Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

    Baalwisasi Sejarah Amaliah Tahlilan Berhasil Diluruskan

    Baalwisasi Sejarah Amaliah Tahlilan Berhasil Diluruskan

    Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

    Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Game of Thrones
    • MotoGP 2017
    • eSports
    • Fashion Week
    • Arsitektur
    • Budaya
    • Kearifan
    • Sejarah
  • Opini
    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

    BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

    BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    RUMAIL KEMBALI BERDUSTA: TIDAK TAKUT BEDOSA BERBOHONG ATAS NAMA KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW YANG ASLI

    Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

    Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

    Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

    Antara Taipan Yahudi George Soros dan Si Suneo Rumail Abbas Ada Ketua PBNU

    Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

    Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

  • Tekno
    Mengenal dan Memahami Teknologi AI

    Mengenal dan Memahami Teknologi AI

    Teknologi Terbaru yang Sedang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

    Teknologi Terbaru yang Sedang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

    Trending Tags

    • Nintendo Switch
    • CES 2017
    • Playstation 4 Pro
    • Mark Zuckerberg
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile
    • Startup
  • Internasional
  • Daerah
  • Hukum
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Berita
    • Semua
    • Ekonomi
    • Internasional
    • Politik
    • Sains
    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Tak Tahu Etika di Negeri Orang: Anak Habib Umar Bin Hafidz Mengangkat Kaki Saat Bertemu Ketua MPR RI

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Pesantren Afiliasi NU di Bogor Disegel, KH Imaduddin: Gaya PKI Semacam Itu Harus ditindak Aparat

    Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

    Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

    Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

    Membaca Buku Fiqih Mistis Karya KH. Alawi Nurul Alam Al-Bantani

    Trending Tags

    • Trump Inauguration
    • United Stated
    • White House
    • Market Stories
    • Election Results
  • Islam
    • Semua
    • Fiqih
    • Tasawuf
    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    Pesantren Nahdlatul Ulum Banten menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba’alwi

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    المحدث الفقيه الفرضي الشيخ مفتي بن اسنوي البنتني الجاوي وكتابه الجوارية في أمثلة الاعراب في اللغة العربية

    KH. Ja’far Shadiq Fauzi Madura: Klan Ba’Alwi Memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’Alwi

    KH. Ja’far Shadiq Fauzi Madura: Klan Ba’Alwi Memalsukan Nasab Walisongo ke Ba’Alwi

  • Kebangsaan
    • Pancasila
    • Bhinneka Tunggal Ika
  • Peradaban
    • Semua
    • Budaya
    • Sejarah
    Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

    Ilham Aidit, Anak D.N. Aidit, Tegaskan Ayahnya Keturunan Ba’alwi Yaman

    Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Dengan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam

    Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Dengan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam

    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

    Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

    Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

    Baalwisasi Sejarah Amaliah Tahlilan Berhasil Diluruskan

    Baalwisasi Sejarah Amaliah Tahlilan Berhasil Diluruskan

    Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

    Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Game of Thrones
    • MotoGP 2017
    • eSports
    • Fashion Week
    • Arsitektur
    • Budaya
    • Kearifan
    • Sejarah
  • Opini
    Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

    Gagasan Pembentukan Pusat Berkhidmat Nahdlatul Ulama Kultural (PBNU Kultural)

    BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

    BUKU 123 HALAMAN PENUH ILUSI: Membongkar Standar Ganda, Fobia DNA, dan Dongeng 600 Tahun

    Catatan Bahtsul Masail MWC NU Wanasari Brebes Tentang Batalnya Nasab Ba’Alwi

    RUMAIL KEMBALI BERDUSTA: TIDAK TAKUT BEDOSA BERBOHONG ATAS NAMA KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW YANG ASLI

    Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

    Mengapa NU Harus Memisahkan Diri dari Klan Habib Baalwi: Sejarah Panjang Masa Depan

    Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

    Antara Taipan Yahudi George Soros dan Si Suneo Rumail Abbas Ada Ketua PBNU

    Bubarkan Rabithah Memutus Rantai Manipulasi: Ketulusan KH. Imaduddin sebagai Jembatan Kejujuran Sejarah Bagi Ba’alwi

    Memahami Klaim Nasab Suci: Pentingnya Verifikasi Data Sejarah dan Narasi Peradaban

  • Tekno
    Mengenal dan Memahami Teknologi AI

    Mengenal dan Memahami Teknologi AI

    Teknologi Terbaru yang Sedang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

    Teknologi Terbaru yang Sedang Viral: AI, Web3, dan Perangkat Canggih

    Trending Tags

    • Nintendo Switch
    • CES 2017
    • Playstation 4 Pro
    • Mark Zuckerberg
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile
    • Startup
  • Internasional
  • Daerah
  • Hukum
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Berita
  • Islam
  • Kebangsaan
  • Peradaban
  • Opini
  • Tekno
  • Internasional
  • Daerah
  • Hukum
Beranda Berita

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kang Diens Oleh Kang Diens
12 Agustus 2026
Dalam Berita
0
Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?
0
BAGIKAN
7
DILIHAT
Share on FacebookShare on Twitter##

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, menjadi arena krusial bagi reorientasi arah gerak organisasi keagamaan kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Menghadapi lanskap sosial-politik yang kian kompleks, Nahdlatul Ulama diperhadapkan pada krisis kepercayaan internal yang menguji independensi, meritokrasi keilmuan, serta integritas kelembagaannya. Artikel ini menganalisis secara kritis dinamika kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui lensa sosiologi keagamaan dan etika fiqh siyasah, serta menawarkan formulasi normatif bagi arah baru kepemimpinan jam’iyyah di masa depan.

Pendirian Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 oleh para ulama Nusantara bukan sekadar peristiwa sejarah lokal, melainkan konsolidasi intelektual dan spiritual untuk merespons pergeseran geopolitik keagamaan global sekaligus tekanan hegemoni kolonial. Pada era tersebut, timbul kesadaran kolektif dari kalangan pesantren untuk menghimpun potensi dalam satu wadah terstruktur guna memperjuangkan kemaslahatan umat, membendung puritanisme radikal, serta meneguhkan moderasi beragama tanpa mencabut masyarakat dari akar kearifan lokalnya. Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, lanskap sosio-keagamaan kembali menunjukkan resonansi historis yang serupa, meski terwujud dalam bentuk kecemasan yang berbeda. Polarisasi dan krisis kepercayaan tidak lagi semata-mata bersumber dari ancaman luar, melainkan berakar dari dinamika internal terkait orientasi etik dan independensi para pemegang mandat di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Dalam kerangka sosiologi politik dan doktrin fiqh siyasah, organisasi keagamaan sebesar Nahdlatul Ulama memegang peran sentral sebagai pilar masyarakat sipil yang wajib menjaga jarak kritis dari kekuasaan negara. Otoritas moral yang dimiliki para ulama bersumber dari kemandirian (istighna’) dan keberpihakan yang konsisten terhadap nilai-nilai keadilan sosial serta perlindungan terhadap masyarakat rentan (al-mustadh’afin). Ketika posisi kepemimpinan tertinggi jam’iyyah mulai dipersepsikan sekadar sebagai instrumen legitimasi bagi kebijakan pemerintah berkuasa, maka marwah kelembagaan yang dibangun oleh para pendiri berisiko mengalami pembiasan mendasar. Keterlibatan struktural yang terlalu intim dengan kekuasaan, terutama melalui praktik rangkap jabatan pada pimpinan inti, secara perlahan dapat melumpuhkan fungsi kontrol sosial dan membungkam suara kritis jam’iyyah di hadapan publik.

Selain risiko kooptasi oleh kekuasaan politik, kepemimpinan Nahdlatul Ulama juga diperhadapkan pada tantangan epistemologis menyangkut pembentukan otoritas keagamaan di dalam struktur jam’iyyah. Epistemologi Islam secara tegas menempatkan ketakwaan, kedalaman ilmu pengetahuan, dan kontribusi nyata sebagai satu-satunya ukuran kemuliaan serta kelayakan kepemimpinan. Pergeseran pandangan yang memosisikan kiai-kiai Nusantara di bawah subordinasi keagungan silsilah genealogis semata, terutama ketika keabsahan silsilah tersebut mengundang perdebatan historiografis dan metodologis yang mendasar, merupakan sebuah bentuk regresivitas pemikiran. Mengerdilkan otoritas keilmuan para ulama demi melapangkan jalan bagi prasangka primordial atau eksklusivisme nasab tidak hanya merusak prinsip meritokrasi keislaman, tetapi juga mencederai martabat tradisi intelektual pesantren yang telah berakar selama berabad-abad.

Krisis kepercayaan di tingkat akar rumput kian diperparah oleh kecenderungan komodifikasi dan birokratisasi posisi kepemimpinan. Jam’iyyah yang seharusnya menjadi arena pengabdian keumatan yang luhur rentan terdegradasi menjadi batu loncatan untuk meraih mobilitas politik vertikal maupun keuntungan ekonomi pragmatis. Fenomena perburuan posisi publik hingga keterlibatan langsung organisasi dalam konsesi ekonomi ekstraktif seperti pertambangan memicu dilema etis yang amat tajam. Ketika lembaga keagamaan masuk ke dalam pusaran bisnis yang berpotensi melahirkan konflik agraria dan kerusakan lingkungan di wilayah warga nahdliyin sendiri, integritas moral organisasi dipertaruhkan. Keterikatan ekonomi pada fasilitas kekuasaan pada akhirnya akan menciptakan kerentanan struktural yang melunakkan posisi tawar PBNU dalam menyuarakan kebenaran.

Di tengah simpul permasalahan yang kompleks ini, Muktamar ke-35 di Tambakberas harus dimaknai sebagai momentum pembuktian dan pemulihan martabat organisasi. Para pemilik suara, yang mewakili cabang dan wilayah dari seluruh penjuru Nusantara, memegang tanggung jawab sejarah untuk mengembalikan kepemimpinan PBNU pada jalur Khittah 1926.

Harapan saya kepada para pemilik suara di muktamar nanti:

  1. Pilih sosok Rais Aam dan Ketum PBNU yang mempunyai rekam jejak yang mendorong penguatan komitmen PBNU menjadi penyambung lidah rakyat, terutama warga NU, sehingga ketika ada ketidak adilan dari kebijakan pemerintah, PBNU dapat mewakili rakyat untuk bersuara memberi masukan kepada pemerintah bahkan dapat mengkritik pemerintah dengan keras dan konstrukstif. Hal itu juga dapat dilakukan dengan melarang pengurus inti (Rais Aam, katib, ketum dan Sekjen) agar tidak merangkap jabatan dengan jabatan di pemerintahan.
  2. Pilih Rais Aam dan Ketum PBNU yang mempunyai komitmen menjadikan kiai-kiai NU sebagai pusat kemulyaan tertinggi bagi warga NU; menjadikan takwa sebagai barometer kemulyaan dalam ruang lingkup NU; menjadikan ilmu pengetahuan sebagai barometer kelayakan kepemimpinan di lingkungan NU; tidak menjadikan kiai-kiai NU sebagai bawahan bahkan pelayan kelompok pengosong nasab apalagi nasabnya terbukti palsu; tidak berpandangan primitif menjadikan nasab sebagai sebagai penentu karir dalam lingkungan kepemimpinan NU.
  3. Pilih sosok Rais Aam dan Ketum PBNU yang memiliki komitmen tidak menjadikan jabatan pengurus PBNU sebagai jembatan meraih jabatan di pemerintah;
  4. Pilih rais Aam dan ketum PBNU yang memiliki komitmen tidak menjadikan jabatan pengurus PBNU sebagai jembatan meraih keuntungan ekonomi.

Secara keseluruhan, masa depan Nahdlatul Ulama tidak ditentukan oleh seberapa besar akses ekonomi dan politik yang dimilikinya, melainkan oleh seberapa teguh organisasi ini mempertahankan independensi moral dan otoritas keilmuannya; Seberapa signifikan kiai-kiai masih memiliki kepemimpinan tertinggi di organisasi yang dulu didirikannya. Muktamar di Tambakberas bukan sekadar prosesi pergantian pucuk pimpinan rutin lima tahunan, melainkan sebuah ujian kesadaran kolektif bagi seluruh elemen jam’iyyah. Hanya dengan menegakkan kembali prinsip kemandirian, meritokrasi keagamaan, dan keberpihakan pada rakyat, Nahdlatul Ulama akan tetap berdiri kokoh sebagai pemandu moral bangsa yang disegani, sekaligus pilar utama penjaga keadilan dan peradaban di Nusantara.

Penulis: Imaduddin utsman Al-Bantani

Sebelumnya

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Berikutnya

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Berikutnya
Klan Habib Baalwi: Komunikasi Inter-Kultur atau Inter-Makhluk?

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang
  • Iklan
  • Privacy & Policy
  • Kontak
Advertisement: 0811-2011-002

Copyright© 2025 .

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Berita
  • Islam
  • Kebangsaan
    • Pancasila
    • Bhinneka Tunggal Ika
  • Peradaban
    • Arsitektur
    • Budaya
    • Kearifan
    • Sejarah
  • Opini
  • Tekno
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile
    • Startup
  • Internasional
  • Daerah
  • Hukum

Copyright© 2025 .