Salah satu karya klasik dalam ilmu nasab yang menjadi sandaran utama para peneliti nasab adalah kitab Muntaqalah al-Thalibiyah karya emas dari Ibrahim Ibnu Thaba’thaba (hidup 479 H.). Kitab ini memiliki keunikan dalam merumuskan metode verifikasi silsilah berbasis geografi. Thabathaba membuat sebuah sistem pengujian validasi silsilah Keturunan Abu Thalib yang tidak hanya mengandalkan pohon silsilah (syajarah), tetapi juga menguji historis perpindahan (geografi dan demografi) keturunan tersebut.
Kitab itu didedikasikan untuk mengatasi maraknya klaim palsu di abad ke-5 Hijriyah sebagai keturunan Abu Thalib demi keuntungan social-keagamaan. kitab ini dibuat untuk membedakan secara tegas mana klaim yang benar dan mana yang palsu. Untuk memudahkan pencarian, Ibrahim Thabathaba memetakan dan menyusun daftar nama kota, negeri, dan wilayah (dari Barat hingga Timur) secara alfabetis. Sistem Lacak Kota atau negeri ini mempunyai mekanisme Jika ada yang mengklaim dari suatu tempat misal Andalusia, silsilah leluhurnya langsung dicocokkan dengan catatan historis tokoh yang pernah pindah ke negeri tersebut. Jika nama kotanya tidak spesifik dan hanya menyebut wilayah besar (seperti Irak, Syam, Khorasan), Ibrahim Thabthaba menyebutkan adanya metode analogi untuk wilayah yang luas yaitu menyediakan rujukan bab khusus wilayah misal: Bab Syin untuk Syam untuk melacak keberadaan cabang suku tersebut.
Kitab ini juga berfungsi sebagai catatan sejarah status kepunahan atau keberlanjutan garis keturunan (nasab), mencakup tokoh yang pernah pindah ke suatu negeri tetapi tidak memiliki keturunan; Garis keturunan laki-laki yang terputus (inqitha’); Keturunan yang masih tersisa beserta jumlah dan status keshahihan silsilahnya.
Tulisan ini akan secara khusus menelusuri reportase Ibrahim Thabathaba pada abad ke-5 Hijriyah tentang siapa saja para sadah yang berada di Yaman pada abad itu. Dalam reportasenya, Ibrahim Thobathoba mencatat mayoritas keturunan Nabi Muhammad SAW atau keturunan Ali bin Abi Thalib yang sudah menetap di Yaman pada abad ke-5 Hijriyah itu berasal dari keturunan Imam Hasan bin Ali. Mereka berasal dari Al-Qasim al-Rassi bin Ibrahim bin Ismail bin Ibrahim bin Hasan bin hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Berikut ini daftar keturunan Nabi Muhammad Dan Bani Hasyim Di Yaman Sampai Abad 5 H menurut reportase Muntaqalah al-Thaibiyah
- Keturunan yahya Al-Hadi bin Husen bin Al-Qasim al-Rassi (Shon’a)
- Keturunan Muhammad Al-Husaini bin Ali bin Abdullah al-Syaikh bin Muhammad bin Al-Qasim Al-Rassi
- Keturunan Zaed bin Ali bin Hasan bin Zaed bin Hasan bin Ali
- Keturunan Hasan Al-Aftas bin Ali bin Ali bin Husen bin Ali bin Abi Talib
- Keturunan Husen al-Abid bin Qasim al-Rassi (sho’dah)
- Yahya bin hasan bin Zaed bin Ibrahim bin Muhammad bin Qasim al-Rassi (sho’dah)
- Keturunan Qasim bin Hasan bin Zaed bin hasan bin Ali
- Keturunan hasan bin Muhammad bin Abdurrahman asyajari bin Qasim bin Hasan bin Zaed bin hasan bin Ali bin Abi Talib
- Keturunan Sulaiman bin Qasim al-Rassi
- Jakfar bin Muhammad Al-hanafiyah bin Ali
- Keturunan Muhsin bin hasan bin Ubaidillah bin Abbas bin Ali bin Abi Thalib (yaman dan Zabid)
- Keturunan Umar bin Ali bin Abi Thalib (yaman dan Oman)
- keturunanMuhammad bin Aqil bin Abi Thalib
Dari reportase kitab Muntaqalah al-Thalibiyyah kita bisa simpulkan bahwa di seluruh Yaman pada abad ke-5 Hijriah itu hanya ada 13 belas keluarga Bani Hasyim. dari 13 keluarga itu hanya satu yang berasal dari keturunan Husen bin Ali yaitu keturunan Hasan al-Aftas bin Ali bin Ali bin Husen bin Ali bin Abi Talib.
Hasil Tes Y-DNA Bani Hasyim di Yaman dalam
Proyek Genetika Quraisy dan Bani Hasyim meluncurkan statistik genetika keluarga-keluarga yang tersohor memiliki garis keturunan Hasyimiyah-Quraisy provinsi-provinsi di Yaman.
Survei genetika ini mendasarkan kerjanya pada hasil-hasil pemeriksaan yang ditampilkan di situs web perusahaan global Family Tree DNA serta perusahaan penguji lainnya seperti YSEQ, YFull, dan Dantelab.
Berdasarkan hasil yang tersedia melalui situs-situs perusahaan analisis tersebut, hasil tes Y-DNA menunjukkan kesesuaian yang sempurna antara keluarga-keluarga mulia ini dan sepupu-sepupu mereka dari kalangan Ashraf dan Sayyid dari Bani Hasyim secara genetis di Jazirah Arab serta bagian wilayah Arab dan Islam lainnya.
Hasil mereka muncul pada penanda genetik J- L859 yang dibawa oleh para Sayyid Hasyimiyyah dari kabilah Quraisy yang bersejarah.
Secara genetis, seluruh keluarga Ashraf di Yaman berkumpul di bawah mutasi genetik Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (FGC10500) yang tersebar di provinsi-provinsi Yaman (Sana’a, Amran, Dhamar, Hajjah, Ibb, Sa’dah, Al-Hudaydah, Ma’rib, dan Shabwah).
Daftar Keluarga di Negara Yaman yang Terkonfirmasi Hasil tes Y-DNA Membawa Mutasi Genetik Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma (J-A31773- J-FGC62702)
- Keluarga Imam Yahya Hamiduddin (Sana’a)
- Keluarga Asy-Syarif Husein bin Ahmad Al-Habili, Amir Beihan (Shabwah)
- Al Ishaq (Sana’a)
- Al Asy-Syarfi (Ash-Syahal, Hajjah)
- Al Asy-Syarfi (Razih, Sa’dah)
- Al Al-Qatabri (Qatabar, Sa’dah)
- Al As-Suswah (Dhamar)
- Al Asy-Syahari (Al-Udayn, Ibb)
- Al Asy-Syami (As-Saddah, Ibb)
- Al Asy-Syami (An-Najdayn, Khawlan Ath-Thiyal)
- Al Al-Mutawakkil (Al-Jardah, Al-Hada’)
- Al ‘Amir (Al-Ahnum, Hajjah)
- Al As-Siraji (Adh-Dhaba’at, Sana’a)
- Al Al-Mu’ayyad (Al-Jaraf, Sana’a)
- Al Jurfayl Al Syukr Al-Qahum (Majzar, Ma’rib)
- Al Abu Thalib (An-Nazhir, Sa’dah)
- Al Al-Hamzi (Yarim, Ibb)
- Al Al-Kibsi (Al-Hada’, Dhamar)
- Al Abu Manshar (Dhibin, Amran)
- Al Ad-Daylami (Qa’ Ad-Daylami, Dhamar)
- Al Adz-Dzari (Ar-Radhmah, Ibb)
- Al Al-Jalal (Ba’dan, Ibb)
- Al Al-Gharbani (‘Ans, Dhamar)
- Al Al-Muhaqiri (Al-Muhaqirah, Sana’a)
- Al Al-Hamli (Hamal, Sana’a)
- Al Quflah (Baqim, Sa’dah)
- Al ‘Uthayf (At-Turaybah, Al-Hudaydah)
- Al ‘Ayyash Asy-Syarif (Al-Mansuriyah, Al-Hudaydah)
- Al Al-Gharbi (Al-Mansuriyah, Al-Hudaydah)
- Al Hamid Al-Bahr (Sa’dah)
- Al Al-Imam (Ar-Radhmah, Ibb)
- Al Majid (Bani Mathar, Sana’a)
- Al Fadhil (Sahhar, Sa’dah)
- Al Al-Hasani Al-Shan’ani (Sana’a)
- Al Manshur Al-Rassi (Sana’a)
- Al An-Nashiri (Sana’a)
- Al Szuraym (Beihan, Shabwah)
Daftar Hasil Tes Y-DNA Keluarga di Yaman yang Positif Sebagai Keturunan Abbas bin Ali radhiyallahu ‘anhuma (FGC38790)
- Al Al-Ashmuri (Al-Ashmur, Amran)
- Al Al-Ma’khadzi (Ma’khadz, Amran)
- Al Al-Warfi (Warf, Amran)
- Al Al-Midhwahi (Amran)
- Al Sha’im Ad-Dahr Al-Qadimi (Az-Zaydiyah, Al-Hudaydah)
- Al Al-Gharb Al-Qadimi (Adh-Dhahi, Al-Hudaydah)
- Al Al-Bahr Al-Qadimi (Al-Mansuriyah, Al-Hudaydah)
- Al Al-Makin Al-Qadimi (Al-Ma’rufiyah, Al-Hudaydah)
- Al Al-Qayqab (Az-Za’liyah, Al-Hudaydah)
- Al Muthahhar (Bayt Al-Faqih, Al-Hudaydah)
- Al Musfir (Al-Hudaydah)
Sementara Hasil Tes Y-DNA Keturunan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma (FGC30416) hanya terkonfirmasi untuk satu keluarga yaitu keluarga Ala Al-‘Amdi dari Provinsi Damar Yaman.
Silsilah dan asal-usul keluarga Ala Al-‘Amdi Al-Husaini berasal dari wilayah Dhamar. Mereka memiliki warisan tradisi keturunan Radawi yang menyambung kepada Al-Mu’ayyad Yahya bin Hamzah Al-Alawi (wafat 749 H di Dhamar) dengan pilar silsilah (‘amud nasab) yang belum sempurna. Namun demikian, posisi genetik Husaini Zaidi mereka mengonfirmasi bahwa mereka merupakan keturunan dari Muhammad Asy-Syahid bin Al-Qasim Az-Zaidi bin Husain bin Muhammad bin Al-Qasim bin Yahya bin Al-Husain Al-Qa’dad bin Al-Husain Dzu ad-Dam’ah bin Zaid Asy-Syahid bin Imam Ali Zainal Abidin (bin Husen bin Ali bin Abi Thalib). Hal ini dikarenakan garis keturunan ini membentuk cabang Husaini Zaidi paling menonjol yang berpindah dari Hijaz ke Yaman, di mana keturunan mereka memiliki peran dan sebaran yang sangat luas di sana serta memelopori kajian ilmu-ilmu fikih dan keagamaan.
Hasil tes keluarga Ala Al-‘Amdi ini dianggap sebagai hasil Husaini pertama berdasarkan letak geografisnya yang mencakup wilayah Utara Yaman dan Selatan Jazirah Arab (khususnya sebelah selatan Mekkah Al-Mukarramah).Keluarga Ala Al-Amdi tidak tereportase Ibrahim Thabathaba berada di Yaman pada abad ke-5 Hijriyah. Kemungkinan mereka datang ke Yaman setelah abad ke-5.
Kita bisa melihat kesesuaian yang hampir sempurna antara reportase Ibrahim Thabathaba abad ke-5 Hijriyah dengan hasil tes Y-DNA tahun 2026 ini, di mana di Yaman pada abad ke-5 Hijriyah keberadaan keturunan Nabi di sana 99% dari Hasan bin Ali yaitu dari keluarga Qasim Al-Rassi dan Zaed bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Sedangkan saat itu keturunan Husen hanya dari keluarga Al-Aftas bin Ali bin Ali bin Husen bin Ali bin Abi Talib.
Keturunan Ali bin Abi Thalib yang lain yang direportase Ibrahim Thabathaba yaitu dari Abas bin Ali terkonfirmasi dengan keluarnya hasil tes Y-DNA dari 11 keluarga yang secara tradisi mencatat silsilahnya sebagai keturunan Abas bin Ali di Yaman pada marker Ali bin Abi Thalib selain Hasan dan Husen.
Sementara keluarga Al-Aftas al-Husaini, keluarga Aqil bin Abi Thalib, keluarga Umar bin Ali, dan Muhammad al-hanafiyah bin Ali yang disebut di abad ke-5 Hijriyah berada di Yaman belum ditemukan hasil tes Y-DNA-nya di antara para keluarga Yaman. Kemungkinan besar keluarga-keluarga itu hari ini sudah tidak ada di Yaman.
Hasil tes Y-DNA Al-Aftasi hari ini terdeteksi muncul di Mesir; keluarga Aqil bin Abi Thalib muncul di kota Ray Iran; keluarga Umar bin Ali muncul di Kwait, Ray, Khurasan dan Sind.
Di Provinsi Hadramaut Tidak Ada Keturunan Nabi Muhammad SAW
Reportase Muntaqalah al-Thalibiyah abad ke-5 H juga memaksa klaim adanya perpindahan Bani Hasyim ke Tarim, Hadramaut tahun 317 H dari Klan Baalwi tidak terkonfirmasi data historis. Provinsi Hadramaut, termasuk Tarim, secara fakta historis kitab-kitab nasab dan sejarah tidak pernah di ditempati keturunan Nabi Muhammad SAW bahkan Bani Hasyim. Hasil-hasil tes Y-DNA dari Hadramaut sampai 2026 ini mengkonfirmasi bahwa tidak satu pun ada keluarga yang membawa subclade J-L859, yaitu subclade Bani Hasyim dan Quraisy.
Beberapa keluarga di Hadramaut yang mengklaim sebagai Bani Hasyim hasil tes Y-DNA mereka negative. Ba’alwi yang mengklaim jalur garis Husaini Y-DNA nya berhaplogrup G yang dikaitkan dengan orang-orang kaukasus. Keluarga-keluarga yang mengklaim keturunan Abu Bakar, Umar, dan Bani Abbas bin Abdul Mutthalib hasil tes Y-DNA nya bervariasi mulai dari haplogrup R, G dan sebagainya. Realitas historis dan biologis tantang klan Ba’alwi dan semacamnya itu membenarkan ucapan Imam Nawawi bahwa popularitas atau syuhrah dan istifadlah tidak bisa diterima sebagai suatu fakta kebenaran ilmiyah, karena popularitas bisa berasal dari suatu yang direkayasa. Syuhrah dan istifadlah hanya bisa diterima sementara dalam keadaan ketiadaan bukti sebaliknya. Tetapi jika suatu syuhrah bertentangan dengan bukti historis yang bisa divalidasi dan diverifikasi maka syuhrah itu tidak bisa diterima dan wajib diabaikan.
Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani