Kehadiran PWI-LS disambut gembira para kiai-kia dan warga NU dan para tokoh bangsa karena nilai-nilai yang diusungnya mewakili suara hati warga NU khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Di berbagai daerah warga NU berlomba-lomba mendirikan ormas PWI LS pada tingkatannya masing-masing, mulai tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan bahkan sampai tingkat desa dan kampung.
PWI-LS kerap diperbincangkan masyarakat karena usaha-usaha organisasi yang dilakukannya selama ini dinilai bermanfaat bagi masyarakat. Di antara usaha-usaha PWI LS diberbagai daerah adalah melindungi para kiai-kiai dan masyarakat dari ancaman ormas radikal eks FPI yang kerap melakukan persekusi kepada kiai dan warga yang dinilai bersebrangan dengan mereka.
Usaha lainnya adalah melindungi masyarakat dari dawirisasi (berkunjung dengan tujuan meminta uang) oknum-oknum Baalwi yang kerap datang meminta sejumlah uang dengan memaksa kepada para kiai-kiai dengan mengaku sebagai cucu Nabi Muhammad SAW.
PWI-LS juga dinilai masyarakat mewakili suara hati mereka dalam mengungkap dan melawan sikap-sikap angkuh dan sombong para oknum habib Ba’alwi dalam kehidupan bermasyarakat yang menganggap klannya lebih mulia dari warga pribumi dengan perempuan mereka tidak boleh dinikahi warga pribumi sementara mereka sendiri boleh menikahi warga pribumi. Ceramah-ceramah oknum habib Ba’alwi yang menyatakan bahwa satu habib yang bodoh lebih mulia dari 70 kiai di lawan oleh PWI-LS dengan narasi bahwa satu kiai pribumi lebih mulia dari seluruh habib Ba’alwi baik yang masih hidup maupun sudah meninggal.
PWI-LS juga dianggap masyarakat telah mampu menjaga kemuliaan para pahlawan dengan memberikan data valid tentang sejarah mereka yang asli. Banyak para pahlawan dan ulama yang nasabnya diaku oleh habib Ba’alwi sebagai bagian keluarga mereka dibongkar oleh PWI LS bahwa klaim itu tidak berdasar fakta sesungguhnya. Para pahlawan dan ulama itu adalah para putra pribumi dan tidak ada kaitan nasab mereka dengan Ba’alwi.
Warga NU juga berbahagia karena makam-makam para wali dan ulama yang beberapa waktu sempat dirubah nama dan sejarahnya kini semenjak adanya PWI-LS telah kembali sebagaimana adanya. Pembangunan cungkup makam dengan sepihak para oknum Ba’alwi di pekuburan umum yang kerap dilakukan sehingga mempersempit area tanah wakaf kini sudah tidak lagi terjadi. Bahkan makam yang sudah dibangun-pun kini dipersoalkan oleh warga masyarakat itu sendiri. Hal itu terkait karena warga asli saja tidak membangun makam kiai dan ulama mereka sedemikian rupa padahal kiai-kiai itu telah berjasa besar terhadap masyarakat sekitar, sementara oknum Ba’alwi membangun makam seseorang yang masa hidupnya tidak dikenal memberikan pengajaran agama kepada mereka di tengah-tengah makam wakaf mereka.
Masyarakat juga menilai bahwa PWI LS telah melakukan hal yang benar dengan memberikan pencerahan kepada mereka akan sejarah masuknya Islam di Indonesia yang dibelokan oknum Baalwi. Selama ini oknum Baalwi mengklaim bahwa kaum Ba;alwilah yang menyebarkan Islam di Indonesia, padahal Islam telah masuk semenjak abad kesatu Hijriah sementara kaum Baalwi datang baru di abad 14 hijriah atau sekitar tahun 1850 M.
Perjuangan Walisongo Indonesia-Laskar Sabilillah atau PWI-LS adalah organisasi keagamaan yang didirikan tahun 2023 di Cirebon oleh para kiai-kiai pesantren dilingkungan Nahdlatul Ulama yang berkomitmen menjaga keutuhan NKRI dan sejarah bangsa berdasar Pancasila dan UUD 1945. Latar Belakang didirikannya PWI-LS adalah keresahan sejumlah tokoh Nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama) atas berkembangnya paham Islam radikal dan transnasional yang dinilai tidak sejalan dengan ajaran Islam Nusantara dan memecahbelah keutuhan bangsa.
PWI-LS juga memiliki kepedulian dalam mengembangkan nilai-nilai Islam yang moderat dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. PWI-LS mengajak masyarakat untuk mengarus-utamakan toleransi dan kerukunan antar umat beragama dan saling menghargai antar sesama bangsa, sesama umat Islam, untuk menciptakan keharmonisan dan kedamaian di tengah-tengah masyarakat.
Selain itu, PWI-LS Juga dikenal konsen dalam menjalankan usaha-usaha untuk menjaga kesucian nasab Nabi Muhammad SAW, ahlibait Nabi dan keturunannya dengan mengadakan kajian ilmiyah, dakwah, agar masyarakat peduli terhadap pentingnya menjaga nasab Nabi Muhammad SAW dari orang-orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi padahal tidak terbukti secara ilmiyah melalui kajian kitab nasab dan tes DNA.
Tokoh tokoh PWI-LS adalah orang-orang ternama nasional yang selama ini aktif di Nahdlatul Ulama, di antara mereka adalah DR. KH. Muhammad Abas Bili Yahsyi, M.A. (Pengasuh Pesantren An-Nadwah) Buntet Cirebon, K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani (Pengasuh Pesantren Nahdlatul Ulum) Kresek Banten, KH. Marzuki Mustamar (pengasuh pesantren Sabilurrasyad,) Malang mantan ketua PWNU Jatim, K.H. Maulana Yusuf Prianadi (Pengasuh Pesantren Al-mubarok) Cinangka Banten, Raja Dangdut Rhoma Irama, Jenderal (purn) dudung Abdurrahman, irjen (pol) Ahmad Nurwahid, Tubagus Mogy Nurfadil, Sayyid Zulfikar pasuruan, KH. Jafar Shidiq (pengasuh pesantren Riyadul Huda) Majalengka, Abah Setu (Mursyid Tarikah TQN Bekasi), K.H. Asep saefuddin Halim (Pengasuh Pesantren Amanatul Umah) Mojokerto, KH. Wahib Hasbullah Kebumen, Gus Aziz Jazuli Banten, KH. Nur Ihyak Surabaya, KH. Suparman Abdul Karim Lampung, KH. Abdul Galib Madura, Kh. Ja’far Batu Ampar madura, Dr. KH. Ubaidillah Tamam Rembang, KH. Syaikhurrijal malang, KH Dawam Rembang, KH. Riyad Musofa Sragen, KH. Lukman Pemalang, KH. Nawawi Klaten, KH. Imdad Cilacap, Ki Salim Cilacap, Ki Mubarak Wonogiri KH. Syarifudin Tegal, TB. KH. Alawi Bandung, KH. Muharror Demak, Abah Hadi Demak, Gus Rido Purbalingga, KH. Bendo Grobogan, Gus Maryono Banyumas, KH. Mun’im Saleh Madura, Kh. Rofiq Wonosobo, KH. Zabidi Surabaya, KH. Husnu Mufid Surabaya, Abah Ismail Surabaya, Kh. Mustain Mansur Kebumen, KH. Maujud Astari Banten, KH. Hamdan Suhaimi Banten, KH. Abdul Mu’thi Banten, KH. Ghazali Tangerang Selatan, KH. Ihsan Badawi Bekasi, KH. Bagus Lukito Bekasi, KH. Akas Cianjur, KH. Aminuddin Sukabumi, KH. Muhammad Amin Garut, Kh. Abdul Mujib garut, Tubagus Ali Hifni Banten, Gus Zumrani Indramayu, Aang Zaenudin Pandeglang, Diar Mandala Pandegalang dan ribuan ulama NU lainnya.
PWI LS mengusung semangat menjaga dan mereaktualisasikan ajaran Walisongo yang luhur, toleran, dan penuh tenggang rasa sebagai esensi dari Islam Rahmatan Lil ‘alamin. PWI-LS juga memiliki kepedulian yang besar dalam menjaga warisan budaya nasional bangsa Indonesia serta sejarah para leluhur bangsa.