وذكر سيدنا وجيه الدين عبد الرحمن بن مصطفى العَيدَرُوسُ قَدَّسَ اللهُ سره في ترجمته لسيدنا رأس المكاشفين عبد الله باحسينِ السَّقَافِ رَضِيَ اللهُ عنه قال : وقد أخبرني بعض الثقات عن العلامة شيخ المشايخ أبي الحسن السَّنْدِي المدني رضي الله عنه محشي الكتب السنة في الحديث وغيرها أنه سُئِلَ فِي دَرْسِهِ : من أفضل : الشريف أو العالم ؟ فحصل له عندها استغراق وطاطا رأسه إلى الأرض ما شاء الله تعالى، ثم رفع رأسه وقال : شريف جاهل أو قال : شريف واحد – أفضل من سبعين عالماً . انتهى .
“Telah menyebutkan Sayidina Wajihudin Abdul Rahman bin Mustafa al-Alidrus Q.S. dalam penjelasannya tentang Penghulu kita, kepala para penyingkap tabir, Abdullah Bahussain Assegaf, semoga Allah meridhoinya, bahwa beliau berkata: Beberapa orang terpercaya bercerita kepadaku tentang Al-Allamah, syekhnya para syekh, Abu al-Hasan al-Sindi al-Madani, semoga Allah meridhoinya, ia adalah penjelas kitab-kitab Sunnah dalam ilmu hadis dan lainnya, bahwa beliau ditanya dalam pengajiannya: Siapa yang lebih utama: Syarif atau ulama? Beliau kemudian terhanyut dan menundukkan kepalanya ke tanah sesuai kehendak Allah SWT, lalu mengangkat kepalanya dan berkata: (Yang lebih mulia adalah) seorang Syarif yang bodoh, atau beliau berkata: Satu Syarif lebih baik dari tujuh puluh ulama. Selesai “. (Al-Manhajussawi h.383). Dari kutipan kitab Al-Manhajussawi karya Baalwi itu ada beberapa yang perlu penulis jelaskan kepada Gus Ajir: pertama, ada seorang Ba’Alwi bernama Syekh Abdurrahman bin Mustofa Alidrus dalam kitabnya “Biografi Bahusen Assegaf” mengklaim bahwa Imam al-Sindi mengatakan bahwa seorang syarif yang bodoh lebih mulia dari 70 ulama. Gus Ajir perlu memahami kutipan semacam itu belum tentu benar. Belum tentu Imam al-Sindi mengatakan yang demikian itu. Bisa jadi itu sebuah kedustaan belaka: ia hanya kalimat yang diklaim sebagai pendapat dari Imam al-Sindi, padahal ia tidak pernah mengatakannya. Lalu bagaimana cara kita mengetahui apakah Imam al-Sindi mengatakan itu atau tidak? Jawabannya adalah dengan memverifikasi. Pertama kita lihat apakah antara perawi Abdurrahman Alidrus dan Imam al-Sindi itu satu masa dan dapat dimungkinkan keduanya pernah bertemu atau tidak. Jika telah diketahui keduanya satu masa dan mungkin pernah bertemu, kita lihat apakah riwayat pernyataan yang seperti itu ada saksi dari perawi lain atau tidak. Abdurahman Alidrus mengklaim bahwa Imam al-Sindi mengatakan pernyataan bahwa seorang syarif yang bodoh itu lebih utama dari 70 ulama ketika ia berada dalam sebuah pengajian. Artinya ia mengatakannya di “mahalluttawatur” (tempat yang banyak orang menghadiri). Maka seharusnya kalimat itu juga didengar oleh orang lain, bukan hanya oleh Alidrus. Pertanyaannya: adakah selain Alidrus dari murid-murid Al-Sindi meriwayatkan hal yang sama seperti Alidrus, jika tidak ada maka riwayat itu jelas riwayat palsu, karena dalam keadaan “mahalluttawatur” suatu peristiwa seharusnya diriwayatkan oleh banyak orang. Berbeda dengan jika Alidrus mengklaim bahwa Imam al-Sindi mengatakannya hanya kepada dirinya di suatu tempat yang sepi, maka hadis itu adalah hadis Ahad yang kesahihannya hanya dilihat dari keterpercayaan perawi itu sendiri. Jika Alidrus, umapamanya, mengatakan bahwa Al-Sindi mengatakan itu hanya dihadiri olehnya, tidak ada yang lain selainnya, maka kita uji kesahihan riwayat itu dengan apakah dalam kitab-kitab karya Al-Sindi ada pernyataan yang sama bahwa seorang syarif yang bodoh lebih mulia dari 70 ulama. Gus Ajir harus dapat membawa sebuah kutipan dari kitab Al-Sindi bahwa ia mengatakan pernyataan yang sama dengan klaim dari Alidrus tersebut. Jika ditemukan, maka kutipan itu akan menjadi “syahid” (saksi) kesahihan riwayat Alidrus. Jika tidak, maka jelas riwayat Alidrus itu adalah riwayat palsu. Dikatakan palsu karena riwayat dari klan Ba’alwi tentang nasab dan sejarah sudah terbukti tidak dapat dipercaya. Terlalu banyak bukti bahwa klan Ba’alwi sejak Ali al-Sakran di abad ke-9 H. melakukan berbagai manipulasi data untuk mensahihkan nasabnya yang tidak mempunyai basis referensi. Jadi pernyataan bahwa seorang Syarif yang bodoh lebih utama dari 70 kiai yang dikutip oleh Zen bin Sumet tidak terbukti sebagai pernyataan dari Al-Sindi. Ia hanya bisa disandarkan kepada Zen bin Sumet karena ialah yang mengutip, atau kepada Abdurrahman Alidrus karena ialah yang menjadi perawi. Dan keduanya adalah Baalwi. Jadi ajaran tentang bahwa nasab lebih mulia dari ilmu itu hanyalah ajaran klan Baalwi yang menyelisihi pendapat para ulama kaum muslimin. Tidak bisa masuk ke dalam derajat perbedaan pendapat para ulama yang dapat ditoleransi. Setelah tidak terbukti bahwa Al-Sindi mengatakan pernyataan itu, maka tinggal dua ulama lagi yang dicatut Zen bin Sumet bahwa mereka mengatakan bahwa nasab lebih mulia dari ilmu, yaitu Imam Al-Ghazali dan Ibnu Hajar. Pertama mari kita kutip ucapan Zen bin Sumet dalam kitabnya Al-Manhajussawi tentang Imam Al-Ghazali:وقال سيدنا الإمام حجة الإسلام الغزالي رحمه الله : شَرَفُ السبب من ثلاث جهات : أحدها : الانتماء إلى شَجَرَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ ، فهذا لا يُعادله شيءٌ . الثانية: الانتماء إلى العلماء، فإنهم وَرَثةُ الأَنبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُه عليهم . الثالثة : الانتماء إلى أهل الصلاح والتقوى، قال الله تعالى : ( وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا) [الكهف: ۸۲). انتهى .
“Penghulu kita, Al-Imam, hujjah Islam, Al-Ghazali, rahimahullah, berkata: Kehormatan nasab berasal dari tiga aspek: Pertama: berasal dari nasab Rasulullah SAW, karena tidak ada yang setara dengannya. Kedua: berasal dari para ulama, karena mereka adalah pewaris para nabi, shalawat dan salam semoga Allah senantiasa menyertai mereka. Ketiga: berasal dari orang-orang yang saleh dan bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh” (QS. Al-Kahfi: 82). Akhir kutipan. (Al-Manhajussawi h. 383) Kutipan Zen bin Sumet terhadap ucapan Imam Al-Gahazali ini bermasalah. Ia tidak menyebutkan dalam kitab apa Imam Al-Ghazali menyebutkan pernyataan ini. Padahal ketika mengutip pendapat Basaudan ia menyebutkan nama kitabnya. Maka ketika ia tidak menyebutkan dalam kitab apa Imam Al-Ghazali mengataknnya, patut dicurigai bahwa di situ ada hal yang tersembunyi. Bisa jadi Zen bin Sumet tidak merujuk sumbernya yang asli, ia hanya mendapatkannya dari perkataan orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jika Zen bin Sumet ulama tsiqah (terpercaya) maka seharusnya ia tidak menyebut nama Imam al-Ghazali untuk suatu pernyataan yang tidak jelas itu ucapan Imam al-Ghazali atau bukan. Jika ia tidak menunjukan dari mana ia mendapat ucapan Imam Al-Gahazali ini maka patut diduga kuat ia hanya mencatut nama besar Imam Al-Ghazali untuk kepentingannya. Jikapun benar itu ucapan Imam al-Gahazali, maka pernyataan itu sama sekali tidak menunjukan bahwa nasab lebih mulia dari ilmu, pernyataan itu hanya menunjukan bahwa nasab Nabi Muhammad SAW tidak bisa dibandingkan dengan nasab lainnya dalam keadaan tidak disertai sifat keilmuan. Maksudnya antara syarif yang bodoh dan bukan syarif yang bodoh maka syarif yang bodoh lebih uatama dari selain syarif yang bodoh. Jika sudah disertai dengan sifat ilmu, maka ilmu mutlak lebih mulia dari pada hanya sekedar nasab. Penempatan pernyataan yang katanya pendapat Imam Al-Ghazali oleh Zen bin Sumet dalam judul besar “Kompetisi antara keutamaan ilmu dan nasab” adalah bentuk khianat ilmiyah dari Zen bin Sumet untuk menggiring pembaca mengikuti ajaran Baalwi bahwa nasab lebih mulia daripada ilmu, padahal pernyataan itu bukan tentang itu. Coba Gus Ajir memahami kalimat-kalimat dalam Bahasa Arab dengan benar dan tepat. Jadi, ada dua kesimpulan dari kutipan Zen bin Sumet tentang Imam Al-Gahazali itu, pertama kutipan itu tidak dapat dibuktika bahwa itu ucapan Imam Al-Ghazali. Kedua, kutipan itu adalah suatu “tamwih” (pengelabuan) terhadap pembaca untuk mengikuti ajaran Baalwi yang menyelisihi pendapat ulama kaum muslimin padahal maksud utamanya bukan seperti itu. Yang terakhir adalah tentang Imam Ibnu Hajar. Kata Zen bin Sumet, Ibnu Hajar adalah salah satu ulama yang menguatkan keunggulan nasab daripada ilmu. Untuk lebih lengkapnya mari kita lihat kutipan Zen bin Sumet:قلت : وممن أفتى بترجيح شَرَفِ النسب على شَرَفِ العِلم الشيخ العلامة أحمد بن محمد بن حَجَرِ الهَيْتَمِي رحمه الله تعالى، ونص عبارته كما في فتاويه» بعد أن مثل : هل الشريف الجاهل أم العالم العامل أفضل، وأيهما أحق بالتوفير إذا اجتمعا، أو أراد شخص التقبيل فأيهما يبدأ به ؟ فأجاب بقوله رضي الله عنه : في كل منهما فضل عظيم، أما الشريف فلما فيه من البضعة الكريمة التي لا يُعادلها شيء، ومن ثمَّ قال بعض العلماء : لا أعادل ببضعة رسول الله ﷺ أحداً، وأما العالم العامل فلما فيه من نفع المسلمين وهداية الضالين، فهم خُلفاء الرُّسُلِ ووارِثُو عُلُومِهم ومعرفتهم . فيتعين على الموفّق أن يرى للكُلِّ مِن العُلماء والأشراف حقهم من التوفير والتعظيم، والمبدوء به إذا اجتمعا الشريف؛ لقوله : قَدِّمُوا قُريشاً، ولما فيه من البضعة الشريفة . انتهى .
“Saya berkata: Di antara orang-orang yang mengeluarkan fatwa mendahulukan kemuliaan nasab di atas kemuliaan ilmu adalah ulama terkemuka, Syekh Ahmad bin Muhammad bin Hajar al-Haytami Rh. Nash ibaratnya, sebagaimana ditemukan kitab Fatawi-nya, setelah ditanya: Apakah seorang syarif yang bodoh atau seorang ulama yang berilmu dan beramal lebih unggul? dan manakah dari keduanya lebih pantas dihormati jika mereka bersama, atau jika seseorang ingin mencium tangannya, mana yang harus dicium terlebih dahulu? Beliau menjawab, semoga Allah meridhoinya: Masing-masing memiliki keutamaan yang besar. Adapun syarif, itu karena nasab mulia yang tak tertandingi. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: Saya tidak akan menyamakan seseorang dengan nasab Rasulullah, saw. Adapun ulama yang berilmu dan beramal, itu karena manfaat yang dibawanya bagi umat Islam dan bimbingan yang diberikannya kepada orang-orang yang telah tersesat. Mereka adalah penerus para Rasul dan pewaris ilmu dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, wajib bagi orang yang telah dituntun ke jalan yang benar untuk memastikan bahwa baik ulama maupun syarif memiliki hak yang semestinya dihormati dan dimuliakan. Para syarif hendaknya didahulukan jika mereka bersama-sama, berdasarkan hadits: “Utamakanlah kaum Quraisy,” dan karena dalam diri syarif ada silsilah mulia yang dimilikinya. Selesai.” (Al-Manhajussawi 389). Ibarat ini, Gus Ajir, adalah kutipan palsu yang tidak pernah dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Fatawi-nya. Ibnu Hajar mempunyai dua kitab fatawi, dan dua-duanya tidak ada ibarat seperti itu. Jika Gus Ajir ingin membela pengkhianatan Zen bin Sumet dalam pengutipan yang tidak referentif seperti itu, silahkan cari ibarat Imam Ibnu Hajar dalam seluruh kitabnya. Anda tidak akan menemukannya. Bahkan sebaliknya yang akan anda temukan adalah bahwa Ibnu Hajar lebih mengunggulkan ilmu daripada nasab sebagaimana yang terdapat dalam kitab Al-Fatawa al-Fiqhiyah Kubra-nya. Dalam kitab tersebut, Ibnu Hajar menyatakan ulama lebih mulia dari seorang syarif yang bodoh. Apabila ada seorang kiai mempunyai anak perempuan yang pintar lalu dilamar oleh seorang syarif yang bodoh untuk anaknya yang bodoh pula, maka anak kiai itu lebih tinggi derajatnya dari syarif yang bodoh tersebut. Anak perempuan kiai ini berhak menolak lamaran syarif yang bodoh itu karena tidak selevel. (lihat dalam kitab Ibnu Hajar Al-Haitami, Fatawa Al-Fiqhiyah Kubra juz 4 h. 101). Gus, Ajir, apa yang penulis bahas di atas adalah untuk seorang syarif yang nasabnya sahih seperti keluarga Asyraf Makkah, Keluarga Raja Yordan, keluarga kerajaan Zaidiyah di Yaman. Bahwa seorang syarif bodoh yang nasabnya sahih seperti mereka itu pun, tidak lebih mulia dari seorang alim dari Jawa. jika nasabnya terbukti palsu semacam gurumu, Taufiq Assegaf, maka itu tidak masuk pembahasan di atas. Mempercayai Taufiq Assegaf sebagai cucu Nabi Muhammad SAW untuk diri sendiri saja hukumnya berdosa apalagi mengajak orang lain untuk mempercayainya. Itu adalah suatu tindakan yang memerlukan taubat nasuha karena telah menyakiti Ahlibait Nabi Muhammad SAW. Hal demikian itu karena ia telah memasukan orang yang tidak bernasab mulia seperti Taufiq Assegaf dan klan Baalwi lainnya ke dalam nasab mulia Siti Fatimah Azzahra dan Sayyidina Ali KW. Siapa yang telah menyakiti Siti Fatimah RA maka ia telah menyakiti Rasulullah. Demikian yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW. Adapun nash haditsnya adalah seperti berikut ini:فاطمة بضعة مني يريبني ما أرابها ويؤذيني ما آذاها
“Fatimah adalah bagian dari diriku, menggoncangkan aku apa saja yang menggoncangkan dia, dan menyakitiku apa saja yang menyakitinya.” (H.R. Bukhari) Siapa yang menyakiti Rasulullah maka ia akan mendapatkan siksa yang pedih. Allah berfirman:والذين يؤذون رسول الله لهم عذاب أليم
“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah SAW mereka mendapatkan siksa yang pedih.” (Attaubah: 61). Tidak ada lagi jalan yang selamat untuk ditempuh bagi mereka yang telah terlanjur di masa lalu meyakini Baalwi sebagai cucu Nabi kecuali hanya bertaubat, agar kelak di akhirat ia dapat memandang senyum Siti Fatimah sang putri dan pujaan hati Nabi. Shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Baginda yang mulia Nabi Muhammad dan Ahlibaitnya, sahabat dan pengikutnya hingga akhir masa nanti. Amin. Oleh: KH. Imaduddin Utsman Al Bantani